KARAWANG – Kondisi genangan air yang merendam sejumlah titik permukiman di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terpantau mulai menunjukkan tren surut. Meski demikian, sisa-sisa banjir masih menjadi beban bagi warga terdampak yang hingga kini belum bisa kembali ke rumah dengan normal.

Memasuki akhir Februari 2026, catatan kelam bencana banjir di wilayah ini mencatat rekor buruk. Ini merupakan kali keempat Karawang terendam sejak awal tahun. Intensitas hujan yang tinggi sejak Januari, diperparah dengan buruknya infrastruktur drainase dan sistem penampungan air, dituding menjadi pemicu utama air sulit mengalir.

Titik Terparah di Teluk Jambe Barat Desa Karanglinggar, Kecamatan Teluk Jambe Barat, masih menjadi wilayah yang paling terdalam terdampak. Hingga saat ini, ketinggian air di area permukiman masih bertahan di angka 50 sentimeter. Kondisi ini memaksa warga tetap bertahan di posko-posko pengungsian karena rumah mereka belum layak huni.

Pemandangan lebih memprihatinkan terlihat di sektor pertanian. Area persawahan di desa setempat masih tampak menyerupai lautan dengan kedalaman air mencapai 2 meter. Menurut kesaksian warga, puncak banjir terjadi pada Jumat (20/2/2026) lalu, di mana air merangsek masuk ke dalam rumah hingga setinggi dada orang dewasa atau sekitar 1,5 meter.

Masalah Kontur Jalan dan Drainase Selain faktor cuaca, masalah geografis juga memperlambat proses surutnya air. Kontur jalanan yang menurun dan membentuk cekungan membuat wilayah ini menjadi “mangkuk” bagi air kiriman maupun air hujan.

Masyarakat kini sangat mengharapkan langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Karawang. Bukan sekadar bantuan logistik darurat, warga mendesak adanya perbaikan menyeluruh pada sistem tandon atau penampungan air agar siklus banjir yang berulang empat kali dalam dua bulan ini tidak kembali terjadi di masa depan.