KARAWANG – Penyelidikan kematian Sumarna (42), petugas keamanan Perum Jasa Tirta atau PJT II yang ditemukan meninggal dengan kondisi kedua tangan terborgol di kawasan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, masih terus dilakukan kepolisian.

Lebih dari satu pekan setelah jasad korban ditemukan pada Jumat, 24 Juli 2026, penyebab pasti kematiannya belum terungkap. Dalam perkembangan terbaru, sejumlah warga mengaku sempat mendengar suara keributan dan teriakan meminta pertolongan pada dini hari sebelum korban ditemukan.

Ketua RW 07 Desa Kembangkuning, Kecamatan Jatiluhur, Dadang, mengatakan kesaksian tersebut disampaikan oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Menurut informasi yang diterimanya, suara seperti orang bertengkar terdengar dari arah tanggul Waduk Jatiluhur. Warga lainnya juga mengaku mendengar jeritan seseorang yang meminta tolong.

“Ada yang mengatakan mendengar suara kegaduhan seperti orang ribut. Ditambah lagi ada warga yang mendengar suara jeritan minta tolong. Namun, warga yang mendengar tidak berani keluar rumah sehingga tidak mengetahui siapa yang berada di luar,” ujar Dadang, Senin, 3 Agustus 2026.

Suara tersebut diketahui muncul saat sebagian besar warga masih beristirahat. Karena merasa khawatir terhadap situasi di luar rumah, warga memilih tidak keluar untuk memeriksa sumber suara.

Dadang juga menerima informasi bahwa korban masih sempat terlihat sekitar pukul 02.30 WIB. Sumarna terlihat oleh seorang warga yang biasa keluar rumah pada dini hari untuk membeli kebutuhan warung.

Saat itu, korban disebut berada di sekitar tanggul dan sedang melakukan peregangan sebelum kembali menjalankan tugasnya.

“Ada warga yang melihat almarhum di bagian ujung sekitar pukul setengah tiga pagi. Berdasarkan informasi yang saya terima, saat itu almarhum sedang melakukan peregangan,” katanya.

Beberapa hari sebelum kejadian, Dadang mengaku sempat berbincang dengan korban. Dalam percakapan tersebut, Sumarna bercerita pernah menegur sejumlah pemuda yang melakukan aksi vandalisme di sekitar tanggul Waduk Jatiluhur.

Meski demikian, Dadang menilai teguran tersebut disampaikan dengan cara yang baik dan tidak sampai menimbulkan perselisihan.

“Kalau dikaitkan dengan vandalisme, saya yakin bukan melibatkan mereka. Saya pernah bertemu almarhum pada hari Kamis sekitar pukul setengah empat pagi. Dia mengatakan sudah menegur secara baik-baik dan tidak ada konflik,” ungkapnya.

Selain kesaksian warga, handy talky atau HT milik korban juga ditemukan di atas sebuah perahu yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Dadang membenarkan penemuan perangkat komunikasi tersebut. Namun, ketika lokasi perahu diperiksa bersama petugas keamanan lainnya, kondisi di sekitarnya terlihat bersih dan tidak ditemukan jejak kaki.

“Memang ada HT di atas perahu. Saat saya mendapat informasi dan mendatangi lokasi, kondisinya bersih serta tidak terlihat adanya jejak kaki,” ujarnya.

Setelah kejadian tersebut, pengurus RW melakukan pendataan terhadap warga di lima RT. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak ada warga yang hilang maupun orang asing yang diketahui masuk ke lingkungan tersebut.

Sementara itu, Satuan Reserse Kriminal Polres Purwakarta bersama Tim Inafis Polda Jawa Barat masih mengumpulkan bukti dan keterangan untuk mengungkap kasus tersebut.

Petugas telah melakukan olah tempat kejadian perkara ulang, mengerahkan anjing pelacak K9, memeriksa lebih dari 15 saksi, serta menganalisis rekaman kamera pengawas dari sejumlah lokasi.

Kapolres Purwakarta AKBP Febri Nurzam mengatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui penyebab pasti kematian Sumarna.

Masyarakat yang mengetahui, melihat, atau mendengar informasi berkaitan dengan kejadian tersebut juga diminta segera menyampaikannya kepada penyidik agar dapat membantu proses pengungkapan kasus. (yat)