KARAWANG – Perum Bulog Kantor Cabang Karawang bergerak cepat mengamankan harga gabah di tingkat petani dengan melakukan penyerapan masif sepanjang Januari 2026. Tercatat, setiap harinya Bulog rata-rata menyerap sekitar 1.500 hingga 2.500 ton Gabah Kering Panen (GKP) langsung dari para petani di lapangan.

Kepala Perum Bulog Cabang Karawang, Umar Said, mengungkapkan bahwa intervensi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga lokal yang mulai goyang akibat cuaca buruk. Hingga akhir Januari, total gabah yang berhasil dihimpun dari berbagai titik panen mencapai 14.041 ton.

Langkah ini dirasa sangat krusial mengingat kondisi cuaca ekstrem dan bencana banjir yang melanda Karawang dalam dua pekan terakhir. Meluapnya Sungai Citarum dan Cibeet tidak hanya merendam pemukiman, tetapi juga mengancam ribuan hektare sawah yang siap panen, sehingga petani kesulitan mendapatkan harga jual yang layak.

Kebijakan Tanpa Tolak demi Petani Terdampak Menyikapi kualitas gabah yang menurun akibat rendaman air, Bulog Karawang mengambil kebijakan khusus dengan tetap menerima gabah petani tanpa memandang kualitas awal. Umar menegaskan, prinsip utamanya adalah memastikan hasil jerih payah petani tetap memiliki nilai jual dan tidak ditolak pasar.

“Selama bulir padi sudah bersih dari kotoran atau benda asing lainnya, kami terima. Kami tidak ingin petani semakin merugi karena hasil panennya terdampak bencana,” ujar Umar Said.

Data Bulog menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari total gabah yang masuk selama Januari berasal dari lahan persawahan yang sempat terendam banjir. Hal ini membuktikan bahwa fokus utama penyerapan kali ini adalah menyelamatkan ekonomi petani yang paling terdampak bencana.

Harga Tetap Stabil di Angka Rp6.500 Di tengah anjloknya harga pasar akibat banjir yang sempat menyentuh angka Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram, Bulog tetap konsisten melakukan pembelian sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni Rp6.500 per kilogram.

Selisih harga yang cukup jauh ini menjadi angin segar bagi para petani. Tanpa adanya kehadiran Bulog sebagai penyangga, petani di Karawang terancam mengalami kerugian finansial yang sangat dalam. Pemerintah melalui Bulog memberikan pilihan bagi petani: menahan penjualan atau langsung menyetorkannya ke gudang Bulog dengan harga yang jauh lebih manusiawi dibandingkan harga tengkulak saat kondisi sulit seperti sekarang.