KARAWANG – Di tengah tekanan ekonomi global akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang kini menembus angka Rp17.702 per dolar AS, sektor perikanan lokal mulai goyah. Para nelayan di Desa Tanjungpakis, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, kini mengeluhkan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi maupun non-subsidi yang kian mencekik biaya operasional mereka.

Kenaikan harga ini membuat para pencari nafkah di laut harus memutar otak agar tidak tekor saat pulang melaut.

Rincian Lonjakan Harga Solar

Ali, salah seorang nelayan asal Tanjungpakis, membeberkan kontrasnya perbedaan harga bahan bakar yang terjadi saat ini. Kenaikan drastis dirasakan baik oleh pemilik kapal berukuran kecil maupun armada besar:

  • Kapal Kecil: Harga solar saat ini merangkak naik hingga menyentuh angka Rp10.000 per liter, dari yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per liter.

  • Kapal Besar (Di atas 30 GT): Menggunakan solar non-subsidi, harganya melonjak ekstrem hingga tembus Rp30.000-an per liter, padahal sebelumnya hanya berkisar antara Rp15.000 sampai Rp18.000 per liter.

“Biaya operasional sekarang membengkak luar biasa dan sudah tidak seimbang lagi dengan pendapatan yang kami terima,” keluh Ali saat diwawancarai, Kamis (21/5/2026).

Dilema Nelayan: Harga Ikan Bagus, tapi Tanggapan Merosot

Situasi yang dihadapi para nelayan saat ini terbilang cukup ironis. Di satu sisi, harga jual ikan di pasaran sebenarnya sedang dalam kondisi yang sangat bagus. Namun di sisi lain, pendapatan mereka tetap merosot tajam akibat berkurangnya volume hasil laut yang dibawa pulang.

Ali mengungkapkan bahwa hasil tangkapan ikan mengalami penurunan hingga 30 persen. Hal ini terjadi karena para nelayan tidak lagi berani melaut terlalu jauh ke tengah samudra demi menghemat konsumsi solar. Akibatnya, waktu dan jarak tempuh berlayar terpaksa dipangkas demi menekan pengeluaran.

Beban Ganda di Atas Kapal

Penderitaan nelayan kecil tidak berhenti pada urusan bahan bakar saja. Biaya perbekalan untuk melaut, seperti harga bahan-bahan pokok (sembako) yang harus dibawa selama berhari-hari di atas kapal, terpantau ikut mengalami kenaikan harga.

Mewakili suara komunitasnya, Ali sangat berharap pemerintah pusat maupun daerah segera turun tangan memberikan intervensi nyata. Mereka mendesak adanya tambahan alokasi subsidi khusus BBM bagi para nelayan kecil agar roda ekonomi pesisir Karawang tidak lumpuh.