Isak Tangis Pedagang Kopi di Bandung: Gubuk Kebanjiran dan Terancam Digusur, Tapi Sukses Kuliahkan Anak di Unair
BANDUNG – Suasana haru menyelimuti sebuah gubuk liar di sekitar Lapang Merpati, Kota Bandung, Selasa (14/4/2026). Di tengah guyuran hujan deras dan kondisi bangunan yang terendam banjir, Ceu Nining, seorang pedagang kopi, tak kuasa menahan tangis saat mendapati sosok Dedi Mulyadi tiba-tiba bertamu ke tempat tinggalnya.
Pertemuan tersebut menyingkap tabir perjuangan seorang ibu asal Garut yang bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dan bayang-bayang penggusuran demi masa depan pendidikan sang anak.
Bertahan di Tengah Ancaman Penggusuran
Ceu Nining sehari-hari menggantungkan hidup dengan berjualan kopi kepada para penghobi merpati di kawasan tersebut. Ia tinggal di sebuah bangunan semi-permanen yang kini masuk dalam daftar penertiban Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk pembangunan gedung pemerintah atau rumah susun.
Rencana penggusuran ini menjadi mimpi buruk bagi Ceu Nining. Pasalnya, bangunan liar itulah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi keluarganya, terutama setelah suaminya tidak lagi bekerja tetap akibat kecelakaan saat menjadi sopir truk di Tol Purbaleunyi.
“Kalau ini dibongkar, saya kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan. Anak saya bisa putus kuliah,” ungkap Ceu Nining dengan penuh kesedihan, dikutip dari kanal YouTube KDM, Selasa (14/4/2026).
Prestasi Membanggakan di Tengah Keterbatasan
Meski hidup dalam gubuk yang kerap diterjang banjir, dedikasi Ceu Nining terhadap pendidikan membuahkan hasil luar biasa. Putra bungsunya, Bagas Pamungkas, berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) bergengsi.
Bagas kini tercatat sebagai mahasiswa jurusan Robotika di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Prestasi tersebut diraih melalui jalur beasiswa pendidikan. Namun, perjuangan Ceu Nining belum usai. Meski biaya kuliah telah tercover, ia masih memikul beban biaya hidup sang putra di perantauan.
Setiap bulannya, dari hasil berjualan kopi, Ceu Nining harus berjuang menyisihkan uang untuk kebutuhan Bagas di Surabaya, meliputi:
-
Biaya Kos: Rp800.000 per bulan.
-
Uang Makan: Rp500.000 per bulan.
Asa untuk Menjadi Warga Bandung
Selain masalah tempat tinggal, Ceu Nining yang saat ini masih berdomisili di Garut juga menyimpan keinginan kuat untuk bisa resmi menjadi warga Kota Bandung. Kehadiran Dedi Mulyadi di gubuknya diharapkan dapat menjadi secercah harapan di tengah kecemasan akan hari esok yang tidak pasti.





Tinggalkan Balasan