BEKASI – Kabar duka menyelimuti dunia perkeretaapian Indonesia menyusul insiden kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa tragis ini dilaporkan telah merenggut sedikitnya tujuh nyawa.

Kecelakaan bermula saat satu rangkaian KRL Commuter Line menghantam sebuah taksi listrik, yang menyebabkan kereta tersebut terhenti di jalur. Tak lama kemudian, rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah yang sama menghantam bagian belakang KRL yang sedang berhenti tersebut.

Dugaan Kesalahan Teknis dan Komunikasi

Berdasarkan informasi sementara, kecelakaan beruntun ini diduga dipicu oleh adanya keterlambatan koordinasi pada sistem pengaturan perjalanan:

  • Keterlambatan Informasi: Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) diduga terlambat memberikan peringatan kepada kru KA Argo Bromo Anggrek bahwa ada rangkaian KRL yang tertahan di depannya.

  • Perubahan Sinyal Mendadak: Saat KA Argo Bromo Anggrek mendekati stasiun, sinyal yang semula berwarna hijau dilaporkan tiba-tiba berubah menjadi merah.

  • Kecepatan Tinggi: Mengingat kereta melaju dalam kecepatan tinggi dan jarak yang sudah sangat sempit, masinis tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengereman darurat secara optimal hingga benturan keras pun terjadi.

Evakuasi dan Data Korban

Pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah mengonfirmasi terjadinya peristiwa memilukan ini. Di lokasi kejadian, Tim SAR bersama petugas gabungan terus berjibaku mengevakuasi para penumpang yang terjepit di dalam rangkaian gerbong yang ringsek.

Data dari petugas Kamar Jenazah RSUD Kota Bekasi menyebutkan bahwa hingga saat ini jumlah korban meninggal dunia telah mencapai tujuh orang. Pihak rumah sakit terus melakukan identifikasi terhadap para korban, sementara penumpang lain yang mengalami luka-luka telah dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis darurat.