KARAWANG – Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) menerima 12 mahasiswa internasional dari enam negara untuk mengikuti pendidikan pada tahun akademik 2026. Dari jumlah tersebut, 11 mahasiswa menempuh program sarjana (S1), sementara satu mahasiswa lainnya mengambil program magister (S2).

Rektor UNSIKA, Prof. Dr. H. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc., mengatakan mahasiswa internasional tersebut berasal dari Pakistan, Sudan Selatan, Bangladesh, Myanmar, Afghanistan, dan Yaman.

“Jadi satu orang dari pasca. Sudah 12 ya, 11 dari S1, satunya dari pascasarjana,” kata Ade, Selasa (1/9/2026).

Penerimaan mahasiswa internasional tahun ini menjadi periode kedua yang diselenggarakan UNSIKA. Pada penerimaan sebelumnya, seluruh mahasiswa asing yang masuk tercatat mengikuti pendidikan pada jenjang sarjana.

Berbeda dari periode sebelumnya, tahun ini UNSIKA untuk pertama kalinya menerima mahasiswa internasional pada jenjang magister. Mahasiswa tersebut tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Sebagai bagian dari proses penyambutan, para mahasiswa internasional mengikuti sejumlah kegiatan pengenalan lingkungan kampus dan sistem akademik di UNSIKA.

Mereka mendapatkan penjelasan mengenai proses perwalian bersama dosen, mata kuliah yang akan ditempuh di masing-masing program studi, hingga mekanisme pembelajaran selama menjalani pendidikan di kampus.

Mahasiswa internasional juga diperkenalkan dengan program kelas internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Melalui program tersebut, mereka dapat mengikuti proses pembelajaran bersama mahasiswa Indonesia.

Dalam rangkaian kegiatan International Affairs UNSIKA, para mahasiswa turut memperkenalkan budaya dari negara asal masing-masing dengan mengenakan pakaian nasional. Mereka juga diberikan kesempatan menampilkan kemampuan serta bakat dalam acara penyambutan.

Ade mengatakan UNSIKA berharap jumlah mahasiswa internasional dapat terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Namun, penerimaan tetap harus disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas kampus.

Menurutnya, ketersediaan gedung, fasilitas pendidikan, pembiayaan hingga dukungan beasiswa menjadi beberapa aspek yang harus diperhitungkan sebelum menambah jumlah mahasiswa asing.

“Kita inginnya terus bertambah. Cuma kita keterbatasan gedung, fasilitas, dan sebagainya. Jadi kemampuan dan kemauan kita harus diukur dengan kemampuan yang ada,” ujarnya.

Keberadaan mahasiswa internasional diharapkan tidak hanya memberikan dampak terhadap proses pembelajaran di lingkungan kampus, tetapi juga membuka peluang kerja sama antara UNSIKA dengan perguruan tinggi maupun institusi di negara asal para mahasiswa.

“Harapan kita sebenarnya tidak hanya sekadar menerima mereka kuliah, tetapi ada dampak lanjutannya seperti pendidikan, joint publication, dan sebagainya,” kata Ade.

Kerja sama tersebut nantinya dapat dikembangkan dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian hingga pengabdian kepada masyarakat.

Ade juga menegaskan bahwa seluruh mahasiswa akan memperoleh kesempatan dan lingkungan akademik yang setara tanpa membedakan mahasiswa dalam negeri maupun mahasiswa internasional.

“Kita tidak lagi membedakan satu sama lain, dalam negeri, luar negeri, ataupun fresh graduate dari negara lain,” pungkasnya.