KARAWANG – Momen pelepasan siswa atau kelulusan sekolah di Kabupaten Karawang kini tidak lagi sekadar menjadi seremoni penyerahan ijazah belaka. Dalam beberapa tahun terakhir, jamak ditemui institusi pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah yang mengemas acara perpisahan dengan sentuhan tradisi lokal yang kental dan sarat makna.

Mulai dari kehadiran sosok ikonik Ki Lengser yang jenaka namun sakral, pawai budaya yang mengular di jalanan desa, hingga prosesi sungkeman berbalut pakaian pengantin adat Sunda lengkap kini menjadi fenomena tersendiri yang kerap kali viral di media sosial.

Sungkeman Khidmat Layaknya Prosesi Pernikahan

Salah satu bagian yang paling menyedot perhatian sekaligus menguras air mata adalah adaptasi prosesi sungkeman. Para siswa yang lulus tidak lagi mengenakan seragam sekolah biasa, melainkan dibalut busana adat Sunda formal.

Layaknya sepasang mempelai dalam hajatan pernikahan, anak-anak ini bersujud di hadapan orang tua masing-masing. Diiringi alunan kecapi suling yang menyayat hati, mereka membasuh kaki ayah dan ibu sebagai simbol permohonan maaf, ungkapan bakti, serta rasa terima kasih atas pengorbanan selama menempuh garis pendidikan. Atmosfer haru pun seketika menyelimuti area sekolah saat prosesi ini berlangsung.

Kemeriahan Ki Lengser dan Karnaval Budaya

Selain sisi emosional yang menyentuh, riuh rendah kegembiraan juga tergambar jelas lewat seni pertunjukan. Kehadiran tokoh tradisional Ki Lengser bersama para penari penyambut selalu sukses memecah suasana saat membuka jalannya acara utama.

Di beberapa wilayah, seperti di kawasan Banyusari, perayaan kelulusan—terutama bagi madrasah—bahkan meluas hingga menjadi pesta rakyat. Pihak sekolah bersama masyarakat menggelar karnaval atau arak-arakan antar-dusun. Warga tumpah ruah ke jalan menyaksikan pawai kreatif yang menampilkan miniatur ogoh-ogoh raksasa berbentuk naga, dentuman marching band, hingga berbagai atraksi kesenian tradisional yang masih terjaga kelestariannya.

Geliat Ekonomi Kreatif dan Jasa Penyewaan Adat

Maraknya tren perpisahan sekolah berbasis budaya ini secara tidak langsung membawa berkah tersendiri bagi ekosistem UMKM di Karawang. Kebutuhan akan tata rias (make-up artist), penyewaan baju adat, dekorasi panggung bernuansa janur kuning, hingga pemandu acara (MC) adat melonjak drastis setiap memasuki musim kelulusan.

Kolaborasi antara pakem tradisional dan modernitas busana, seperti kebaya modifikasi dan gaun kreatif, kini terus berkembang seiring dengan tingginya apresiasi masyarakat terhadap para pelaku industri kreatif lokal. Perayaan kelulusan pun bergeser dari sekadar rutinitas tahunan menjadi panggung pelestarian budaya sekaligus penggerak roda ekonomi daerah.