KARAWANG – Dampak cuaca ekstrem mulai memicu krisis air bersih di wilayah Kabupaten Karawang. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 3.428 jiwa dari 1.228 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di tiga desa mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih akibat sumur-sumur warga yang mengering.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Ferry Muharam, mengungkapkan bahwa wilayah yang terdampak saat ini terfokus di dua kecamatan, yaitu Tegalwaru (Desa Kutalanggeng) serta Ciampel (Desa Kutamekar dan Desa Mulyasejati).

“Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat sejak awal Juni lalu. Kami terus bergerak di lapangan untuk menyalurkan air bersih secara berkala agar kebutuhan harian warga tetap terpenuhi,” ujar Ferry, Senin (6/7/2026).

Puluhan Ribu Liter Air Bersih Mulai Digelontorkan

Guna mengatasi situasi ini, BPBD Karawang berkolaborasi dengan Perumdam Tirta Tarum untuk menyuplai air bersih menggunakan armada truk tangki. Air diambil dari sumber terdekat dan langsung didistribusikan ke titik-titik pemukiman warga yang paling parah terdampak. Hingga 3 Juli lalu, petugas telah menggelontorkan sedikitnya 75.000 liter air bersih. BPBD memastikan pasokan air tangki akan terus dikirim selama wilayah tersebut belum diguyur hujan dan sumber air warga belum pulih.

Waspada Potensi Kekeringan Meluas hingga September

Pihak BPBD juga mengimbau masyarakat untuk waspada, mengingat puncak musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung hingga September mendatang. Berdasarkan pemetaan historis dari tahun 2023 hingga 2025, ada empat kecamatan di Karawang yang masuk dalam zona merah rawan kekeringan tahunan, yaitu Tegalwaru, Pangkalan, Cikampek, dan Ciampel.

“Peluang meluasnya area terdampak masih ada. Oleh karena itu, tim kami terus melakukan monitoring intensif di lapangan serta menyiagakan armada tangki untuk mengantisipasi lonjakan permintaan air dari wilayah lain,” tutup Ferry.