KARAWANG – Kabar menarik datang dari kawasan Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang. Di tengah proses penantian penetapan kawasan tersebut sebagai Taman Hutan Raya, tim konservasi mencatat keberadaan Sikep Madu Asia ras Jawa yang terpantau bersarang dan berkembang biak di kawasan hutan Sanggabuana.
Pembina Yayasan Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard T Wahyu Wiryanta, menjelaskan burung pemangsa tersebut merupakan Oriental Honey-buzzard dengan nama ilmiah Pernis ptilorhynchus ptilorhynchus.
Menurut Bernard, Sikep Madu Asia pada dasarnya berasal dari kawasan Asia Timur dan Asia Utara. Ketika musim dingin tiba, burung-burung tersebut biasanya bermigrasi ke wilayah tropis yang memiliki suhu lebih hangat serta ketersediaan makanan yang mencukupi, termasuk Indonesia.
Rombongan Sikep Madu Asia migran umumnya mulai memasuki wilayah kepulauan Indonesia pada periode Oktober hingga November. Namun, selain kelompok migran, terdapat pula Sikep Madu Asia yang menetap di Pulau Jawa.
Bernard menjelaskan terdapat ciri fisik yang membedakan ras migran dan ras penetap atau ras Jawa. Sikep Madu Asia ras Jawa umumnya memiliki jambul di bagian kepala, sementara kelompok migran tidak memiliki ciri tersebut.
Keberadaan jambul pada ras Jawa disebut sebagai salah satu bentuk adaptasi. Burung penetap tidak perlu menempuh perjalanan migrasi ribuan kilometer seperti kelompok migran sehingga memiliki karakteristik tubuh yang berbeda.
Temuan Sikep Madu Asia ras Jawa di Pegunungan Sanggabuana bermula dari kegiatan eksplorasi yang dilakukan sekitar pertengahan Agustus 2026. Pada awal pengamatan, burung tersebut sempat diduga sebagai Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang sedang membuat sarang.
Setelah dilakukan pemantauan lebih intensif oleh Sanggabuana Wildlife Ranger dari SCF, burung tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Sikep Madu Asia ras penetap.
Tim konservasi juga berhasil mendokumentasikan tahapan perkembangbiakan burung tersebut, mulai dari proses mengerami telur hingga menetasnya anakan.
Bernard menyebut dokumentasi tersebut menjadi catatan penting karena dinilai sebagai bukti visual awal mengenai proses perkembangbiakan Sikep Madu Asia ras Jawa di Pulau Jawa.
SCF berharap anakan burung yang telah menetas dapat tumbuh dengan baik dan terus berkembang biak di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana.
Keberadaan burung pemangsa yang mampu berkembang biak di kawasan tersebut juga dinilai menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem hutan Sanggabuana masih mampu menyediakan habitat yang mendukung kehidupan satwa liar.
Kondisi itu berkaitan dengan keberadaan tutupan pohon, ketersediaan makanan, serta lingkungan yang relatif mendukung proses berkembang biaknya satwa.
Sikep Madu Asia diketahui mengonsumsi berbagai jenis pakan, terutama larva, pupa, sarang lebah, dan tawon. Burung tersebut juga dapat memangsa serangga berukuran besar seperti kumbang, jangkrik, belalang, serta ulat kayu.
Selain serangga, amfibi dan reptil kecil juga menjadi bagian dari sumber makanan burung pemangsa tersebut. Menurut Bernard, berbagai sumber pakan itu tersedia di kawasan Pegunungan Sanggabuana.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa Sanggabuana tidak hanya berfungsi sebagai jalur lintasan bagi sejumlah burung migran, tetapi juga menjadi habitat penting bagi satwa yang berkembang biak di dalam kawasan hutan tersebut.
Bernard menilai area yang menjadi lokasi sarang burung pemangsa idealnya mendapatkan perlindungan lebih ketat. Aktivitas yang berpotensi mengganggu kawasan, termasuk perubahan fungsi lahan maupun kegiatan wisata dalam skala besar di sekitar lokasi sarang, dinilai perlu dikendalikan.
Temuan tersebut juga dinilai membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut di bidang ornitologi, khususnya mengenai perilaku alami Sikep Madu Asia ras Jawa yang sejauh ini masih memiliki keterbatasan dokumentasi ilmiah.
Bernard berharap proses penetapan Pegunungan Sanggabuana sebagai kawasan konservasi dapat terus didorong sehingga habitat satwa liar dan area perkembangbiakannya memperoleh perlindungan yang lebih optimal.