KARAWANG – Kekeringan yang melanda Kabupaten Karawang terus meluas hingga akhir Oktober 2026. Sedikitnya 47.707 jiwa atau 14.491 kepala keluarga di 33 desa kini terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau panjang yang telah berlangsung sejak Juni 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, puluhan desa terdampak tersebut tersebar di delapan kecamatan. Wilayah Karawang bagian selatan menjadi salah satu kawasan yang mengalami kondisi paling serius.

Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak. Masing-masing kecamatan mencatat tujuh desa yang mengalami kekeringan. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Ciampel dan Telukjambe Barat.

Kemarau berkepanjangan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sejumlah sumur milik warga dilaporkan mengering sehingga masyarakat harus mengandalkan distribusi air bersih dan rela mengantre untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dampak kekeringan turut dirasakan sektor pertanian. Sekitar 4.248 hektare lahan persawahan di Karawang berada dalam kondisi terancam puso atau gagal panen akibat pasokan air yang semakin terbatas.

Sektor perikanan juga ikut terdampak. Sejumlah kolam budi daya mengalami penyusutan bahkan kekeringan, sehingga menyebabkan ikan yang dibudidayakan warga mati.

Untuk mengatasi kebutuhan mendesak masyarakat, BPBD Karawang bersama berbagai unsur telah menyalurkan sedikitnya 2.314.000 liter air bersih ke wilayah terdampak.

Dari jumlah tersebut, sekitar 614 ribu liter berasal dari BPBD Karawang. Sementara sekitar 1,7 juta liter lainnya disalurkan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, PMI, Baznas, serta sejumlah perusahaan dan kawasan industri di Karawang.

Distribusi air bersih terus dilakukan sebagai langkah darurat untuk membantu masyarakat selama sumber air belum kembali normal.

Selain penanganan jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Karawang juga menyiapkan langkah untuk mengurangi risiko terulangnya krisis air pada musim kemarau berikutnya.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah memperluas jaringan pipanisasi Perumdam dengan memanfaatkan sumber air dari Kalimalang menuju wilayah Pangkalan dan Tegalwaru.

Pembangunan jaringan tersebut diharapkan dapat memberikan pasokan air yang lebih stabil bagi masyarakat di wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau.