KARAWANG – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) meningkatkan upaya penanganan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, sebanyak 20 unit pompa dikerahkan untuk membantu menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian yang terdampak.

Pompa tersebut digunakan untuk mengalirkan air dari Sungai Citarum dan jaringan irigasi menuju area persawahan yang mengalami kekurangan pasokan air.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pemenuhan kebutuhan air bagi sektor pertanian menjadi salah satu prioritas pemerintah, khususnya di daerah yang menghadapi kemarau panjang maupun dampak El Nino.

Menurutnya, persoalan kekeringan tidak hanya berkaitan dengan menurunnya ketersediaan air, tetapi juga berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat serta keberlangsungan sektor pertanian.

Karena itu, Kementerian PU berupaya memastikan bantuan pasokan air dapat segera diberikan kepada wilayah yang membutuhkan, terutama kawasan pertanian yang berisiko mengalami gagal tanam maupun gagal panen.

Kepala BBWS Citarum Mochammad Dian Al Ma’ruf menjelaskan, Pakisjaya menjadi salah satu wilayah di kawasan Sungai Citarum yang mengalami kekeringan.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari beberapa area yang belum terjangkau jaringan irigasi teknis Daerah Irigasi (DI) Jatiluhur, kerusakan infrastruktur, hingga adanya pergeseran waktu tanam.

Lahan yang berpotensi terdampak kekeringan di Kecamatan Pakisjaya tersebar di tiga wilayah, yakni Desa Solokan, Desa Telukjaya, dan Desa Tanahbaru.

Untuk mempercepat penanganan, sebanyak 20 pompa dengan kapasitas sekitar 40 hingga 80 liter per detik dioperasikan. Peralatan tersebut berasal dari BBWS Citarum, BBWS Citanduy, BBWS Ciliwung Cisadane, serta Kementerian Pertanian.

Air dipompa langsung dari Sungai Citarum karena wilayah terdampak tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai dan sebagian kawasan berbatasan dengan wilayah yang memiliki karakteristik air asin.

Selain mengandalkan pompanisasi, Kementerian PU turut melakukan normalisasi saluran irigasi pada sejumlah lokasi yang teridentifikasi menghambat distribusi air.

Penanganan melalui pemompaan dan normalisasi yang dilakukan sejak 19 Agustus hingga 28 September 2026 tercatat telah membantu mengairi sekitar 400 hektare lahan pertanian.

Dari total sekitar 1.150 hektare lahan yang terdampak kekeringan di Pakisjaya, sebanyak 400 hektare berhasil mendapatkan kembali pasokan air. Area tersebut mencakup tanaman yang sudah tumbuh maupun lahan yang sedang dipersiapkan untuk masa tanam berikutnya.

Modifikasi Cuaca Perkuat Pasokan Air

Selain melakukan pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi, Kementerian PU juga bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara, Perum Jasa Tirta II, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi tersebut dilakukan di sejumlah wilayah dan telah menghasilkan hujan di beberapa kawasan Jawa Barat serta Jabodetabek.

Pelaksanaan OMC di Jawa Barat berlangsung secara bertahap mulai 18 September hingga 4 Oktober 2026. Program tersebut dilakukan untuk membantu menjaga pasokan air bagi sekitar 523 ribu hektare persawahan yang terhubung dengan kurang lebih 2.000 kilometer jaringan irigasi di Wilayah Sungai Citarum.

Hingga 3 Oktober 2026, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca disebut telah memberikan tambahan ketersediaan air pada tampungan mencapai sekitar 45,8 juta meter kubik.

BBWS Citarum juga terus melakukan koordinasi dengan para pengelola waduk untuk menjaga keandalan pasokan air bagi kebutuhan irigasi, air baku, serta pembangkit listrik.

Pengelolaan tersebut dilakukan agar distribusi air dapat berlangsung secara optimal dan tidak ada pasokan yang terbuang, termasuk dengan melakukan normalisasi pada saluran-saluran irigasi yang menghambat aliran air.