KARAWANG – Sebanyak 20.500 bibit mangrove ditanam di kawasan Ekosistem Pesona Alas Mangrove, Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. Kegiatan yang digagas Forum CSR Tenant Indotaisei tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir sekaligus mendukung mitigasi perubahan iklim.

Penanaman dilakukan dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia dengan melibatkan 26 perusahaan anggota Forum CSR Tenant Indotaisei. Sejumlah unsur Pemerintah Kabupaten Karawang serta mitra lokal Konservasi Cipta Pesona Desa (CPD) juga turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Program ini dilaksanakan di tengah ancaman abrasi yang masih menjadi persoalan serius bagi kawasan pesisir Karawang. Berdasarkan data Dinas Kehutanan, sekitar 84 kilometer garis pantai Karawang menghadapi risiko abrasi yang salah satunya dipengaruhi oleh kerusakan kawasan mangrove.

Ketua Forum CSR Tenant Indotaisei, Maridi, menyampaikan bahwa penanaman puluhan ribu bibit mangrove tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan investasi lingkungan untuk jangka panjang.

Menurutnya, Forum CSR Tenant Indotaisei berkomitmen menjaga keberlangsungan lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.

Perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah II Jawa Barat, Budi, memberikan apresiasi terhadap keterlibatan Forum CSR Tenant Indotaisei dalam kegiatan penghijauan pesisir tersebut. Ia menyebut program itu sejalan dengan Gerakan Leuwung Hijau sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 40 Tahun 2025.

Budi menilai keterlibatan perusahaan dalam program pelestarian lingkungan menjadi bukti bahwa sektor industri tidak hanya berorientasi pada kegiatan ekonomi, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

Sementara itu, Ketua Konservasi Cipta Pesona Desa (CPD), Ahmad Fatoni, mengatakan kolaborasi yang telah terjalin bersama Forum CSR Tenant Indotaisei selama beberapa tahun mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan kawasan mangrove dan perekonomian masyarakat sekitar.

Hingga tahun 2026, akumulasi penanaman mangrove di kawasan tersebut telah mencapai lebih dari 362.000 pohon. Jumlah itu diperkirakan mampu mendukung pemulihan ekosistem mangrove dengan luas mencapai sekitar 13 hektare.

Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, keberadaan kawasan mangrove juga mulai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Aktivitas UMKM hingga pengembangan desa wisata menjadi beberapa sektor yang turut berkembang seiring dengan pemulihan kawasan pesisir.

Kepala Desa Muarabaru, Ato Sukanto, turut mengapresiasi perusahaan yang berkontribusi dalam penanaman mangrove di wilayahnya. Menurutnya, vegetasi mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami untuk mengurangi dampak abrasi pantai.

Ato berharap kawasan mangrove yang telah dibangun dan dipulihkan dapat terus dijaga. Selain menjalankan fungsi perlindungan lingkungan, kawasan tersebut juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata pesisir berbasis ekowisata.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut turut datang dari perwakilan Bapperida Karawang, Arleni, serta perwakilan Bidang Pengendalian Perubahan Iklim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang, Sri Mukti. Penanaman mangrove dinilai berpotensi membantu mempercepat pencapaian target penurunan emisi di Kabupaten Karawang.

Sri Mukti menjelaskan, Kabupaten Karawang memiliki target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor lahan dan kebencanaan sekitar 30.000 ton ekuivalen CO₂.

Namun, berbagai program penanaman mangrove yang dilakukan perusahaan swasta telah memberikan kontribusi cukup besar terhadap peningkatan penyerapan emisi. Realisasi penyerapan emisi di Karawang disebut telah mencapai sekitar 90.000 ton ekuivalen CO₂ berkat kontribusi penanaman ratusan ribu bibit mangrove.

DLH Karawang bersama Bapperida juga menegaskan bahwa pemeliharaan setelah proses penanaman menjadi hal yang tidak kalah penting. Bibit mangrove yang telah tumbuh perlu dijaga agar tidak rusak maupun mengalami alih fungsi lahan.

Kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir, termasuk usaha tambak, juga diharapkan tetap mempertahankan sabuk hijau mangrove agar aktivitas tersebut tidak mengganggu kawasan konservasi maupun fungsi perlindungan pantai.

Sebanyak 26 perusahaan tercatat tergabung dalam Forum CSR Tenant Indotaisei, yaitu PT AICA Indonesia, PT Asahimas Flat Glass Tbk, PT Astra Honda Motor, PT B Braun Pharmaceutical Indonesia, PT Bio Farma (Persero), PT Daido Indonesia Manufacturing, PT Gemala Kempa Daya, PT G-Tekt Indonesia Manufacturing, PT Honda Precision Parts Manufacturing, PT Indonesia Koito, PT Indonesia Nippon Steel Pipe, PT Indotaisei Indah Development, PT Kalbe Morinaga Indonesia, PT Kawai Indonesia, PT Koyama Casting Indonesia, PT Mane Indonesia, PT Mitsui Chemicals Polyurethanes Indonesia, PT Molten Aluminum Producer Indonesia, PT Moresco Indonesia, PT Nippon Konpo Indonesia, PT Sanghiang Perkasa, PT Shinih Nonwovens Indonesia, PT Sumi Rubber Indonesia, PT Aica Techno Wood Indonesia, PT Tritunggal Multi Chemicals, dan PT Yamatogomu Indonesia.

Dari jumlah tersebut, terdapat 14 perusahaan yang berpartisipasi dan memberikan donasi secara mandiri dalam program penanaman 20.500 bibit mangrove tahun 2026. Mereka adalah PT Asahimas Flat Glass Tbk, PT B. Braun Pharmaceutical Indonesia, PT Bio Farma (Persero), PT Daido Indonesia Manufacturing, PT G-Tekt Indonesia Manufacturing, PT Honda Precision Parts Manufacturing, PT Indonesia Koito, PT Indonesia Nippon Steel Pipe, PT Indotaisei Indah Development, PT Molten Aluminum Producer Indonesia, PT Nippon Konpo Indonesia, PT Aica Techno Wood Indonesia, PT Mane Indonesia, dan PT Yamatogomu Indonesia.

Kontribusi Forum CSR Tenant Indotaisei diharapkan terus berlanjut, tidak hanya dalam bentuk penanaman bibit tetapi juga melalui pemeliharaan serta perlindungan kawasan mangrove. Keberlanjutan program tersebut dinilai penting untuk memperkuat pertahanan alami pesisir Karawang dari abrasi sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.