KARAWANG – Puskesmas Jatisari mulai melaksanakan pemeriksaan kesehatan bagi calon jemaah haji asal Kecamatan Jatisari yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 2027. Pemeriksaan ini menjadi salah satu tahapan awal untuk menilai kondisi kesehatan para calon jemaah sebelum memasuki proses evaluasi lanjutan.

Dokter Puskesmas Jatisari, Dede Ridwan, menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui sekaligus mengevaluasi kondisi kesehatan setiap calon jemaah berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas medis.

“Hari ini kita melakukan pemeriksaan kesehatan haji untuk tahun 2027. Di sini kita evaluasi dan menentukan kesehatan jemaah haji,” ujar Dede, Selasa (11/8/2026).

Dari sekitar 47 calon jemaah haji yang telah terdata, sebanyak 27 orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan. Sementara calon jemaah lainnya akan menjalani pemeriksaan secara bertahap sebagai bagian dari rangkaian persiapan menuju keberangkatan.

Dede menegaskan, hasil pemeriksaan kesehatan tersebut belum menjadi keputusan akhir mengenai kelayakan calon jemaah untuk berangkat. Setiap hasil pemeriksaan masih akan dikaji lebih lanjut dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing calon jemaah.

“Tidak langsung mutlak. Nanti ada kajian terlebih dahulu berdasarkan hasil yang didapatkan, kemudian dilakukan evaluasi,” jelasnya.

Dengan adanya proses evaluasi tersebut, calon jemaah yang ditemukan memiliki kondisi kesehatan belum optimal masih memiliki kesempatan untuk menjalani pembinaan maupun pemantauan kesehatan lanjutan.

Pihak Puskesmas Jatisari berharap seluruh calon jemaah dapat menjaga kondisi fisik dan kesehatannya selama masa persiapan. Hal itu dinilai penting agar mereka dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan kondisi yang prima.

“Harapannya jemaah haji sehat, bisa berangkat dalam keadaan sehat, dan pulang dengan selamat,” kata Dede.

Selain menjalani pemeriksaan medis, para calon jemaah haji juga akan mendapatkan pembinaan pada tahapan berikutnya. Pembinaan tersebut mencakup kesehatan jasmani, kesehatan rohani, serta berbagai edukasi yang berkaitan dengan kesiapan dalam menjalankan ibadah haji.

Menurut Dede, kegiatan pembinaan biasanya dilakukan setelah seluruh hasil pemeriksaan kesehatan calon jemaah diperoleh dan selesai dievaluasi.