Viking Karawang Dorong Transformasi Suporter Modern Lewat Seminar “Biru di Garis Batas”
KARAWANG – Viking Karawang terus mendorong perubahan cara pandang terhadap peran suporter sepak bola. Tidak hanya dikenal karena loyalitas dan militansi di tribun, kelompok suporter juga dinilai perlu memiliki organisasi yang sehat, kreatif, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar dan diskusi publik bertajuk “Biru di Garis Batas” yang digelar Viking Karawang di Hotel Brits Karawang, Minggu, 9 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dan menjadi ruang diskusi bagi para Bobotoh untuk membicarakan berbagai isu, mulai dari sejarah dan kultur suporter, loyalitas terhadap Persib Bandung, hingga arah perkembangan organisasi suporter di kawasan perbatasan.
Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Kuntowiyoga, Rizki Sanjaya, dan Doni Damara. Masing-masing menyampaikan pandangan dari sudut berbeda, tetapi tetap berkaitan dengan perkembangan kultur serta organisasi suporter.
Selain seminar, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan website yang dikembangkan oleh Viking UBP. Platform digital tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi serta kreativitas anggota dalam mengikuti perkembangan zaman.
Dalam sesi diskusi utama, peserta membahas kondisi Bobotoh yang berada di wilayah perbatasan. Pembahasan mencakup persoalan identitas, kultur suporter, militansi terhadap Persib, hingga dinamika hubungan dan rivalitas antarpendukung sepak bola.
Pengalaman serta perjalanan sejarah Bobotoh di kawasan tersebut juga menjadi bagian dari diskusi karena dinilai turut membentuk karakter komunitas suporter hingga saat ini.
Ketua Viking Karawang, Rai Kandika Abadi, mengatakan seminar tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang memiliki tujuan lebih besar dibanding sekadar menjadi tempat berkumpul para anggota.
“Seminar ini adalah agenda tahunan Viking Karawang. Tujuannya agar kita sebagai suporter bisa membuktikan bahwa suporter dapat berdampak bagi masyarakat dari hasil kajian dan diskusi di seminar,” katanya.
Menurut Rai, keberadaan kelompok suporter tidak seharusnya hanya dinilai dari seberapa besar militansi mereka saat mendukung tim di stadion. Suporter juga harus mampu membangun organisasi, menghasilkan gagasan baru, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Sementara itu, Kuntowiyoga mengapresiasi perkembangan organisasi Viking Karawang. Ia mengaku senang dapat hadir sekaligus menyaksikan langsung bagaimana komunitas tersebut terus berkembang.
“Saya berterima kasih atas undangannya dan menjadi saksi bahwa teman-teman Viking Karawang telah berhasil menciptakan organisasi yang baik,” ucap Kuntowiyoga.
Narasumber lainnya, Rizki Sanjaya, menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan organisasi dengan mencegah munculnya konflik internal yang berlarut-larut.
Ia juga mendorong agar iklim demokrasi di dalam organisasi tetap dipertahankan melalui berbagai kegiatan rutin, seperti rapat, pertemuan anggota, diskusi, hingga kajian bersama.
Sejumlah tamu turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Adea Eka Rizaldi, SH dari DPRD Provinsi Jawa Barat, Pembina Viking Karawang Aroni “Bocung”, serta perwakilan VPC A Toni.
Melalui seminar “Biru di Garis Batas”, Viking Karawang berupaya membangun tradisi diskusi dan intelektual di lingkungan suporter yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Kegiatan tersebut tidak hanya membicarakan kecintaan terhadap Persib Bandung, tetapi juga menyoroti bagaimana organisasi suporter dapat mengelola perbedaan, menjaga kultur organisasi, memperkuat solidaritas, serta memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat.





Tinggalkan Balasan