KARAWANG – Pemerintah Kabupaten Karawang mengambil langkah cepat untuk menangani kekeringan yang melanda ribuan hektare lahan pertanian. Sebanyak 13 unit alat berat dikerahkan ke sejumlah titik untuk memperlancar kembali aliran irigasi menuju area persawahan yang mengalami kekurangan pasokan air.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang, sekitar 4.248 hektare sawah terdampak kekeringan dan berisiko mengalami gagal panen atau puso apabila kondisi kekurangan air terus berlangsung.

Wilayah yang terdampak tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Cilamaya Wetan, Pakisjaya, Pedes, Jayakerta, Cilebar, Telagasari, Kutawaluya, Telukjambe Barat, Telukjambe Timur, hingga Pangkalan.

Sejumlah wilayah dengan kondisi cukup kritis, termasuk Pakisjaya dan Cilamaya, menjadi perhatian dalam penanganan kekeringan tersebut.

Pemerintah Kabupaten Karawang bersama Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melakukan normalisasi saluran irigasi dengan mengoperasikan 13 ekskavator di sejumlah lokasi.

Beberapa di antaranya merupakan ekskavator amfibi yang dapat digunakan pada kawasan berlumpur maupun berair. Pengerukan dilakukan untuk membersihkan sedimentasi lumpur, sampah, dan material lain yang menghambat aliran air.

Normalisasi diharapkan membuat pasokan air dari bagian hulu dapat kembali mengalir menuju lahan pertanian yang berada di wilayah hilir.

Selain pengerukan saluran, upaya penanganan dilakukan melalui program pompanisasi. Pompa air ditempatkan di sejumlah lokasi yang memiliki debit irigasi rendah untuk mengalirkan air dari sumber terdekat menuju petak-petak sawah.

Salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus adalah Desa Sungaibuntu, Kecamatan Pedes. Sekitar 450 hektare sawah di wilayah tersebut sempat mengalami keterbatasan pasokan air karena lokasinya berada di bagian hilir jaringan irigasi.

Petani setempat sebelumnya telah beberapa kali melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran. Namun, sedimentasi yang cukup berat menyebabkan air masih sulit menjangkau areal persawahan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, sebanyak 10 unit pompa air hasil kolaborasi BBWS Citarum dan Kementerian Pertanian dioperasikan guna membantu memenuhi kebutuhan air pertanian di Sungaibuntu.

Penanganan juga dilakukan dengan pengerukan menggunakan ekskavator amfibi, mengatasi air asin akibat intrusi air laut yang masuk ke jaringan persawahan, serta membangun dam parit untuk mempertahankan pasokan air tawar agar dapat digunakan untuk mengairi sawah.

Pemerintah Kabupaten Karawang memastikan proses penanganan akan terus dipantau agar saluran primer maupun sekunder dapat kembali berfungsi secara optimal.

Langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko gagal panen, khususnya bagi petani yang berada di wilayah hilir, sekaligus mempertahankan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Karawang.