KARAWANG – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Baru berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Pesta Kesetaraan Tahun 2026 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Mulyasejati, Kecamatan Ciampel, pada 2 hingga 4 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, PKBM Tunas Baru dinobatkan sebagai juara umum setelah sukses membawa pulang lima piala dari tujuh cabang perlombaan yang diikuti.
Capaian tersebut diraih berkat penampilan konsisten para warga belajar dalam sejumlah kategori. Pada cabang Pionering dan Bakiak Putra, kontingen PKBM Tunas Baru berhasil meraih Juara 1.
Sementara itu, pada cabang Lomba Kreativitas Baris Berbaris Tongkat (LKBBT), perwakilan PKBM Tunas Baru menempati posisi Juara 2. Adapun cabang Bakiak Putri dan Setara Chef masing-masing menyumbangkan prestasi Juara 3.
Pelatih Pramuka PKBM Tunas Baru, Kak UU, mengaku bangga terhadap perjuangan dan semangat para peserta yang telah menjalani proses latihan hingga pelaksanaan lomba.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kesungguhan peserta selama masa persiapan. Para warga belajar terus berlatih, memperbaiki kesalahan, serta membangun kekompakan tim.
Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang telah diraih. Nilai kedisiplinan, kerja sama, dan semangat belajar diharapkan tetap dipertahankan untuk menghadapi berbagai kegiatan berikutnya.
Tutor Pendamping PKBM Tunas Baru, Meida Fitriani, M.Pd., turut mengapresiasi perjuangan warga belajar yang mampu membagi waktu antara pekerjaan, kegiatan belajar, dan latihan untuk mengikuti perlombaan.
Menurut Meida, keterbatasan waktu bukan menjadi hambatan bagi warga belajar untuk menunjukkan kemampuan. Kekompakan dan disiplin menjadi salah satu faktor penting, terutama pada cabang perlombaan yang membutuhkan koordinasi tim seperti Pionering dan Bakiak.
Kepala PKBM Tunas Baru, H. Abd Syukur, menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan juga mampu mencetak peserta didik yang memiliki karakter, keterampilan, dan daya saing.
Ia menegaskan bahwa pendidikan nonformal tidak hanya