KARAWANG – Warga Kampung Cibereum, RT 07/RW 04, Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, telah menghadapi krisis air bersih selama sekitar lima bulan. Kemarau panjang membuat sejumlah sumber air yang selama ini digunakan warga mengering.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengandalkan bantuan air bersih atau mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak.

Salah seorang warga, Imas (52), mengatakan kekeringan tahun ini dirasakan lebih panjang dibandingkan pada 2025. Tahun lalu, menurutnya, kondisi kering berlangsung sekitar tiga bulan sebelum hujan kembali turun.

“Kalau tahun ini sudah lima bulan. Kalau tahun kemarin sekitar tiga bulan sudah turun hujan,” kata Imas, Selasa (15/9/2026).

Untuk memperoleh air, Imas bersama warga lainnya harus menuju sumber mata air yang lokasinya sekitar satu kilometer dari kawasan permukiman.

“Ya setiap hari kita ambil air ke mata air. Dari jalan ke titiknya itu sekitar satu kilometer,” ujarnya.

Dalam sehari, keluarga Imas setidaknya membutuhkan sekitar empat jeriken air untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, bantuan air bersih dari pemerintah maupun instansi lain belum dapat diterima setiap hari.

Menurut Imas, distribusi bantuan terkadang baru datang dalam rentang satu hingga dua minggu sekali. Ketika bantuan belum tersedia, warga terpaksa mencari air dari mata air maupun sumur yang berada di tengah area persawahan.

Kondisi ekonomi juga menjadi kendala bagi sebagian warga untuk membeli air secara rutin. Mayoritas masyarakat setempat bekerja serabutan sehingga lebih memilih memanfaatkan sumber air yang masih tersisa.

“Kalau di sini air bor dari rumah sudah enggak ada sama sekali. Ada beberapa titik sumber air yang dekat, pada kering. Makanya tahun ini lebih parah,” ungkap Imas.

Pada Selasa (15/9/2026), sejumlah warga terlihat membawa galon, ember dan jeriken ke tepi jalan untuk menerima bantuan air bersih yang disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karawang bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang.

Air tersebut kemudian dibawa ke rumah masing-masing untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketua RT setempat, Onen, menyebut kekeringan berdampak terhadap sekitar 95 kepala keluarga dengan total 279 warga.

Selama ini, sebagian besar masyarakat mengandalkan sumur bor dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). Namun, kemarau yang berlangsung cukup lama menyebabkan sejumlah sumber air tidak lagi menghasilkan pasokan yang mencukupi.

“Ada mandiri warga yang bor dan ada keluar air. Tapi rata-rata pakai PAMSIMAS. Cuma kalau kemarau seperti ini, sumber-sumber airnya kering semua,” ujar Onen.

Ia berharap penyaluran bantuan air bersih dapat terus dilakukan selama sumber air warga belum kembali normal.

“Selama sumber air masih kering, kami berharap bantuan air bersih tetap disalurkan supaya kebutuhan warga sehari-hari bisa terpenuhi,” katanya.