60 Petani Karawang Patungan Rp30 Juta Bangun Bendungan Darurat
KARAWANG – Puluhan petani di Dusun Ciberem, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, harus mengumpulkan dana secara swadaya untuk membangun bendungan sementara. Upaya tersebut dilakukan demi menjaga pasokan air bagi sekitar 40 hektare sawah yang terancam kekeringan.
Sebanyak 60 petani dilibatkan dalam pembangunan bendungan darurat di aliran Sungai Cidawolong. Mereka berharap pemerintah segera menghadirkan bangunan pengairan permanen agar persoalan kekurangan air tidak terus terjadi setiap memasuki musim tanam.
Ketua Kelompok Tani, H. Bidin, menjelaskan bahwa bendungan sementara menjadi satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan petani agar air tetap mengalir menuju lahan pertanian.
Menurutnya, bendungan di Sungai Cidawolong yang selama ini digunakan sebagai sumber pengairan telah mengalami kerusakan. Infrastruktur tersebut sebelumnya dibangun pada 2020, tetapi hanya mampu bertahan sekitar satu tahun.
“Setiap tahun kami terpaksa membuat bendungan sendiri melalui swadaya petani. Sekarang kami membangunnya lagi karena cara ini cukup membantu mengalirkan air ke sawah,” ujar Bidin.
Untuk membangun satu bendungan sementara, para petani harus mengeluarkan biaya kurang lebih Rp30 juta. Dana tersebut dikumpulkan secara mandiri oleh petani yang membutuhkan air untuk mengolah sawah.
Bidin menilai kondisi itu cukup memprihatinkan, terutama ketika pemerintah sedang mendorong peningkatan produksi dan swasembada pangan. Di sisi lain, petani masih harus menghadapi keterbatasan sarana dasar berupa jaringan pengairan.
Berbagai cara sebenarnya telah dilakukan untuk mendapatkan air, termasuk menggunakan mesin pompa. Namun, pilihan tersebut dinilai kurang efektif karena memerlukan biaya bahan bakar yang besar.
Selain itu, mesin pompa harus terus diawasi untuk mencegah pencurian. Debit air yang dihasilkan juga belum tentu mampu menjangkau seluruh area persawahan.
Bidin mengaku pernah mengeluarkan biaya sekitar Rp15 juta untuk membeli kabel dan sejumlah peralatan pendukung. Akan tetapi, pengeluaran tersebut belum mampu menyelesaikan persoalan irigasi secara menyeluruh.
“Penggunaan pompa membutuhkan biaya bahan bakar yang tinggi. Pompa juga harus dijaga, sedangkan air yang dialirkan belum tentu sampai ke seluruh sawah,” katanya.
Atas kondisi tersebut, petani meminta pemerintah membangun bendungan permanen di Sungai Cidawolong. Pembangunan itu diharapkan menjadi solusi jangka panjang sehingga petani tidak lagi harus mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah setiap tahun.
Petani setempat, Olim Subarjah, turut meminta perhatian pemerintah daerah dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia berharap bendungan yang dibangun nantinya memiliki konstruksi kuat dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
“Kami meminta pemerintah dan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi membangun bendungan permanen. Pembangunannya harus benar-benar kuat, jangan sampai cepat rusak,” ujarnya.
Menurut Olim, bendungan darurat hasil swadaya petani tidak dapat bertahan lama. Akibatnya, para petani berpotensi kembali menghadapi masalah serupa pada musim tanam berikutnya.
Ia mengatakan keterbatasan air membuat petani kesulitan menanam padi. Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, pendapatan dan kebutuhan pangan para petani juga akan terdampak.
“Sekarang petani kesulitan menanam padi. Kalau tidak bisa menanam, kami mau mendapatkan penghasilan dari mana? Bendungan sementara ini tidak akan bertahan lama. Kami memohon agar pemerintah membangun bendungan yang bagus dan tahan lama,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan