KARAWANG – GOR Panatayuda menjadi saksi kemeriahan perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 lewat pementasan teater musikal bertajuk “Bermain di Negeri Awan” pada 2–3 Mei 2026. Karya besutan Simon Kasimin yang disutradarai oleh Hendra Wijaya ini berhasil menyedot perhatian sebanyak 4.127 penonton dari berbagai lapisan masyarakat.

Pementasan ini sejalan dengan spirit Hardiknas 2026, yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tidak sekadar tontonan artistik, panggung ini menjadi bukti nyata teater sebagai sarana pembelajaran yang kontekstual dan inklusif.

Kolaborasi Lintas Usia dan Eksplorasi Imajinasi

Keunikan pertunjukan ini terletak pada keterlibatan aktif sekitar 70 siswa SD dan SMP dari Dar El Fallah yang bernaung di bawah Sanggar Andara. Kolaborasi ini mencerminkan proses kreatif yang hidup dan partisipatif.

Pengamat teater, Rudi Hartono, yang turut hadir di lokasi membedah kekuatan pementasan ini dari sisi dramatik:

  • Struktur Cerita: Dibangun secara sederhana namun sangat efektif dalam menyentuh dunia anak-anak.

  • Ruang Simbolik: Konsep “Negeri Awan” menjadi jembatan antara realitas dan imajinasi, memudahkan penonton cilik menyerap pesan melalui aspek visual serta emosional.

  • Metode Penyutradaraan: Hendra Wijaya dinilai sukses menerapkan pendekatan “bermain sambil belajar”, memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang secara alami tanpa paksaan akting yang kaku.

Teater sebagai Sarana Pengembangan Karakter

Proses artistik dalam “Bermain di Negeri Awan” melampaui teknis hafalan naskah semata. Para peserta didik diajak mengasah kedisiplinan, keberanian, hingga kepekaan sosial dan emosional di atas panggung. Secara visual, komposisi musik dan gerak dirancang harmonis sehingga menghasilkan ritme pertunjukan yang terasa organik.

Rudi Hartono menegaskan bahwa karya ini membuktikan potensi teater anak sebagai ruang pendidikan alternatif yang relevan dengan ekosistem sekolah, keluarga, dan komunitas seni.

“Anak-anak tidak hanya tampil, tetapi juga mengalami dan membangun diri melalui seni. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa proses belajar dapat tumbuh dari pengalaman bermain yang jujur dan kolektif,” ujar Rudi, Minggu (3/5).

Keberhasilan Sanggar Andara dalam mengelola panggung ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan di Karawang, di mana kreativitas dan pembentukan karakter dapat bersinergi dalam satu wadah pengalaman yang berkesan.