KARAWANG – Ada pemandangan yang tak lazim di SMP Negeri 4 Kota Sukabumi baru-baru ini. Jika biasanya ratusan siswa menerima jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam wadah ompreng praktis, kali ini mereka justru tampak rapi mengantre membawa piring dan sendok dari rumah masing-masing.

Ratusan pelajar ini berbaris di depan meja-meja panjang yang disulap menjadi meja prasmanan di dalam kelas. Suasana makan bersama yang unik ini ternyata merupakan bagian dari kemeriahan Expo dalam rangka memperingati Milad ke-47 SMPN 4 Sukabumi.

Berawal dari Ide Pihak Dapur Wakasek Humas SMPN 4 Kota Sukabumi, R. Niske Dewintania, mengungkapkan bahwa konsep prasmanan ini sebenarnya bukan rencana awal pihak sekolah. Ide tersebut datang dari pihak penyedia makanan (dapur) yang sebelumnya sukses menerapkan skema serupa di SMA 2.

“Pihak dapur menawarkan, bagaimana kalau sesekali dibuat model prasmanan supaya anak-anak tidak bosan, apalagi bertepatan dengan momen Expo Milad sekolah. Akhirnya kami setuju untuk mencoba,” tutur Niske, Senin (23/2/2026).

Manajemen Antrean 930 Siswa Mengelola makan siang untuk 930 siswa tentu bukan perkara mudah. Pihak sekolah harus menyiapkan empat titik prasmanan yang tersebar di beberapa ruang kelas untuk membagi konsentrasi massa berdasarkan tingkatan kelas.

Meski siswa membawa piring sendiri, pembagian porsi tetap dilakukan oleh petugas dari SPPG Karamat. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan gizi agar setiap siswa mendapatkan porsi yang rata dan adil. Faktor kebersihan juga dijaga ketat, di mana petugas wajib menggunakan masker, sarung tangan, hingga melakukan prosedur test food sebelum makanan dihidangkan.

Tantangan Waktu dan Antrean Panjang Meski disambut antusias, Niske mengakui bahwa metode prasmanan ini memiliki tantangan besar pada durasi waktu. Proses distribusi makanan memakan waktu lebih dari satu jam, jauh lebih lama dibandingkan sistem ompreng yang biasanya lebih ringkas.

“Cukup terkendala di waktu. Anak-anak sempat tidak sabar menunggu giliran sampai ada yang memukul-mukul piring karena saking lamanya mengantre. Belum lagi kalau cuaca hujan, pengaturannya harus lebih ekstra,” tambahnya.

Hanya untuk Momen Spesial Melihat evaluasi pelaksanaan tersebut, pihak sekolah menilai sistem prasmanan ini kurang efektif jika diterapkan untuk harian karena keterbatasan waktu istirahat siswa yang hanya 30 menit. Namun, konsep ini tetap dianggap sebagai pengalaman berharga bagi siswa untuk belajar mengantre dan tertib.

Ke depannya, pihak SMPN 4 Sukabumi berencana menggunakan konsep serupa hanya pada acara-acara khusus, seperti agenda buka puasa bersama di bulan Ramadan mendatang, tentunya dengan penyesuaian menu agar tetap segar dan higienis.