KARAWANG – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur, memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi global yang diprediksi akan mengalami sedikit pengereman pada tahun 2026. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan berada di angka 3,2 persen (yoy), tipis di bawah pencapaian tahun 2025 yang menyentuh 3,3 persen.

Menurut Muhamad Nur, faktor utama yang memicu perlambatan ini adalah efek domino dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta kerentanan jalur pasokan dunia. Meski begitu, ada angin segar dari sektor investasi teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI) dan stimulus fiskal di AS yang justru diprediksi menguat.

“Sektor teknologi dan investasi AI di berbagai negara justru sedang kencang-kencangnya,” ujar Muhamad Nur saat memberikan keterangan di Kantor BI Jabar, Bandung, Selasa (24/2/2026).

Anomali Ekonomi di Jawa Barat Di sisi lain, Deputi Kepala Perwakilan BI Jabar, Muslimin Anwar, menyoroti fenomena unik atau “anomali” yang terjadi di Jawa Barat. Meskipun Jabar menjadi magnet investasi nasional dengan nilai fantastis mencapai Rp266,8 triliun pada 2025, angka pengangguran terbuka masih cukup tinggi di level 6,7 persen.

Kondisi ini terjadi karena mayoritas investasi yang masuk ke wilayah seperti Karawang, Bekasi, dan Purwakarta kini berbasis teknologi tinggi (high-tech) yang mengandalkan otomatisasi dan robotika, bukan lagi industri padat karya.

“Investasi kita banyak di sektor otomotif dan mesin yang menggunakan teknologi terkini. Ini tantangan bagi tenaga kerja lokal karena kebutuhan skill-nya sudah berbeda,” jelas Muslimin.

Pentingnya Integrasi Kurikulum Vokasi Menyikapi hal tersebut, Muslimin menekankan pentingnya konsep link and match antara dunia pendidikan dan industri. Sekolah-sekolah vokasi maupun perguruan tinggi di Jawa Barat tidak bisa lagi berjalan sendiri dalam menyusun kurikulum.

“Kurikulum harus disusun bersama pihak industri agar lulusannya benar-benar memiliki kapabilitas yang dibutuhkan. Jika kebutuhan spesialisasi ini tidak bisa dipenuhi warga Jabar, risikonya kita akan melihat banjirnya tenaga kerja dari luar daerah atau bahkan luar negeri,” tegasnya.

Selain masalah keterampilan, pertumbuhan angkatan kerja yang sangat masif di Jabar—dengan total penduduk mencapai 50 juta jiwa—menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Bank Indonesia pun terus mendorong penguatan sektor UMKM dan kewirausahaan bagi para lulusan baru guna menyeimbangkan ketersediaan lapangan kerja yang ada.

Pemerataan Wilayah BI Jabar juga mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan agar tidak hanya menumpuk di wilayah Utara. Sementara kawasan Utara fokus pada industri teknologi, wilayah Jabar bagian Selatan diarahkan untuk menjadi penyangga ketahanan pangan. Pembagian fungsi wilayah ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan ekonomi dan menekan angka kemiskinan di masa depan.