Banjir Karangligar Tak Kunjung Surut, Ratusan Warga Jalani Ramadan di Pengungsian
KARAWANG – Memasuki hari keempat bulan suci Ramadan, duka masih menyelimuti warga Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat. Banjir akibat luapan Sungai Cibeet dilaporkan masih merendam Dusun Pangasinan dan Dusun Kampek hingga Minggu, 22 Februari 2026. Kondisi ini memaksa sedikitnya 1.647 jiwa bertahan di posko pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Salah seorang warga Dusun Pangasinan, Agus Tohaeri, menuturkan bahwa air bah mulai masuk ke pemukiman sejak hari kedua puasa. Untuk kebutuhan sahur dan berbuka, Agus dan pengungsi lainnya sangat bergantung pada uluran tangan para donatur. Jika bantuan tidak datang, mereka terpaksa menggunakan sisa tabungan seadanya untuk membeli takjil di sekitar lokasi pengungsian agar tetap bisa membatalkan puasa.
Nasib serupa juga dialami oleh Ustaz Agus, warga terdampak lainnya. Meski sedikit beruntung karena bisa mengungsi di rumah kerabat yang berlokasi di dekat Stasiun Kereta Cepat Whoosh, ia tetap menyimpan kerinduan untuk kembali ke rumah. Baginya, momen Ramadan yang paling dirindukan adalah bisa memakmurkan masjid desa dan melihat anak-anak melaksanakan salat Tarawih berjamaah dalam kondisi normal.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, tercatat sebanyak 432 unit rumah terendam dalam musibah kali ini. Kepala Pelaksana BPBD Karawang, Usep Supriadi, menyatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan bantuan logistik darurat berupa mi instan, air mineral, minyak goreng, hingga beras sebanyak satu kuintal melalui pemerintah desa setempat.
Namun, kendala di lapangan masih ditemukan. Kepala Desa Karangligar, Ersim, menjelaskan bahwa meski bantuan logistik berupa makanan instan sudah dibagikan, khusus untuk bantuan beras belum dapat didistribusikan secara merata. Hal ini dikarenakan jumlah beras yang tersedia saat ini dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga yang berada di titik-titik pengungsian.






Tinggalkan Balasan